Dengan kepadatan sekitar 5–10 ekor domba per hektare, investor dapat memperoleh dua aliran nilai sekaligus dari satu aset: listrik dan pendapatan dari ternak.
“Lahan yang sebelumnya dianggap non-productive buffer zone berubah menjadi area produksi ternak,” ujarnya.
Dari sisi manajemen risiko, integrasi ini memberikan diversifikasi pendapatan bagi pemilik proyek. Pendapatan dari sektor peternakan tidak bergantung pada skema tarif listrik, sehingga menciptakan struktur bisnis yang lebih adaptif terhadap fluktuasi pasar.
Namun, Syam menekankan bahwa implementasi solar grazing memerlukan desain teknis yang presisi. Domba menjadi pilihan utama karena ukuran tubuhnya yang tidak merusak struktur panel, berbeda dengan kambing yang memiliki kecenderungan memanjat.
“Desain panel—termasuk tinggi minimum, jarak antarbaris, serta proteksi kabel—harus disesuaikan agar aman bagi ternak dan tetap optimal bagi produksi listrik,” tandas Syam.
Selain aspek bisnis, solar grazing menjadi solusi atas potensi resistensi sosial. Dengan melibatkan peternakan lokal, masyarakat sekitar tidak lagi hanya menjadi penonton, melainkan mitra ekonomi yang mendapatkan akses lahan dan peningkatan kapasitas. Hal ini mengubah hubungan proyek dengan warga menjadi kemitraan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
“Dan mungkin di situlah arah masa depan bisnis energi akan bergerak—bukan pada seberapa besar kita membangun infrastruktur baru, tetapi pada seberapa dalam kita memahami dan mengelola ruang yang sudah kita miliki,” pungkasnya.














